Bukan pernikahan cinderella
Masih ingat dengan sebuah cerita
dongeng jaman masih kecil dulu? Cinderella. Dongeng yang menceritakan seorang
wanita yg jatuh cinta pada seorang pangeran tampan dan kaya raya, tapi apalah
daya dia hanya seorang wanita biasa yang selalu di tindas ibu tiri dan kedua
kaka tirinya yang jahat. Hidupnya bak pembantu yang tidak pernah dihargai. Singkat
cerita, sang putri di tolong seorang peri yang membantunya datang ke pesta
dansa dan akhirnya menikah dengan pangeran dan bahagia selamanya (happily ever
after). Kira – kira begitu ya ceritanya kalau saya tidak salah ingat.
Hal ini membuat para wanita selalu
berangan – angan hadir seorang pangeran berkuda putih meminangnya dan merekapun
menikah bahagia selamanya. Tapi, itu semua hanya ada di dongeng. Tapi, ada hal
yang bisa kita pelajari selain berangan – angan bahwa hidup setelah pernikahan
itu akan selamanya bahagia. Kalau kita menyimpulkan dari cerita tersebut, bahwa
di balik ujian – ujian yang ada akan datang satu masa dimana akhirnya kita bisa
merengkuh kebahagiaan yang hakiki. Tentunya kebahagiaan yang kita rindukan
adalah JannahNya.
Setiap manusia diciptakan Allah
berpasang – pasangan. Sebagaimana firman Allah yang artinya : “Dan segala
sesuatu Kami ciptakan berpasang-pasangan supaya kamu mengingat akan kebesaran
Allah.” (QS Adz-Zaariyat: 49). Oleh karena itu, menikah merupakan fitrah
manusia. Pernikahan atau nikah artinya terkumpul dan menyatu (wikipedia). Menurut
istilah lain juga dapat berarti ijab qabul (akad nikah).
Setiap orang pasti ingin menikah, tapi
tidak semua orang membekali diri dengan ilmu sebelum menuju gerbang pernikahan.
Bahkan saat ini fenomena nikah cerai sudah menjadi hal yang sepertinya di
anggap biasa bagi sebagian orang.
Untuk itu, ada beberapa tips yang dapat
kita ambil hikmahnya dari kajian Bukan Pernikahan Cinderella oleh ustd Iwan
Januar.
- Pernikahan adalah sebuah pilihan. Saat seseorang yakin bahwa dia siap menikah, artinya dia siap berkomitmen dan benar – benar siap dalam menghadapi setiap ujian dan cobaan yang nantinya akan datang. Kenapa? Karena ini bukan seperti di dongeng. Sudahlah jelas bahwa sebuah pernikahan itu adalah proses pembelajaran yang tidak akan ada habisnya sampai kita meninggal. Life is Choice.
- Pilih pasangan yang 1 tujuan. Tidak lucu kan kalau kita mau ke tanah abang eh pasangan mau nya ke mangga dua, jelas gak nyambung. Saat pilihan tujuan sudah kita buat, maka kita pun sebaiknya mencari pasangan yang memiliki satu tujuan. Paling tidak, kita bis mencari pasangan yang bisa menunjang tujuan dan visi kita. Jangan salah, membuat tujuan pernikahan serta visi pernikahan merupakan hal yang wajib. Jangan sampe sudah menikah baru keluar kata – kata “kita sudah tidak sepaham lagi baik nya cerai saja” loh awal – awal pernikahan kemana aja? Ini yang kadang sulit sekali di pahami kebanyakan orang saat ini. Tentunya visi yang diajarkan dalam Islam adalah bahagia dunia & akhirat.
- Mempersiapkan diri dalam menghadapi berbagai cobaan. Pernikahan jelas sekali bukan seperti yang ada di dongeng – dongeng waktu kita kecil dulu. Jadi dalam pernikahan jangan pernah sampai kita berhenti belajar. Menikah itu proses pembelajaran yang tidak ada ujungnya, untuk itu carilah pasangan yang mau di ajak bekerjasama, belajar bersama – sama. Bukannya malah mendominasi salah satunya. Biasanya yang memiliki sifat dominan itu laki – laki yang merasa sudah menjadi pemimpin rumah tangga. Rasulullah SAW bersabda “Muslim yang paling sempurna imannya adalah yang perilakunya paling baik, dan yang terbaik diantara kalian adalah yang perilakunya paling baik pada istri-istrinya.” Begitu juga dengan wanita, jangan sampai ada kesombongan dalam diri nya misal karena memiliki penghasilan yang lebih besar sehingga melupakan kewajibannya untuk memenuhi hak – hak suami. Intinya, bahwa setiap masalah yang timbul dalam pernikahan itu datanngnya dari diri sendiri. Penting adanya komitmen yang besar dari keduanya untuk saling mengingatkan satu sama lain akan hak dan kewajibannya. Suami wajib memenuhi hak istri dan begitu pula sang istri yang menjalankan kewajibannya untuk memenuhi hak suami.
- Belajar mengurangi ego. Laki – laki dan wanita adalah dua hal yang berbeda. Sudah menjadi fitrah nya laki – laki lebih mengedepankan logika dalam menyelesaikan suatu masalah, dan sudah fitrahnya wanita ibarat tulang rusuk yang bengkok, yang harus diperlakukan dengan lembut dan penuh kasih sayang. Keduanya harus saling memahami fitrah nya masing – masing. Artinya, laki – laki harus lebih sabar menghadapi istri. Bagi para wanita, tanamkan dari sekarang untuk selalu menghormati suami dan taat pada suami.
Itu tadi beberapa tips dari kajian
Bukan Pernikahan Cinderella. Sekilas ini yang dapat saya sampaikan bila masih
belum cukup, bisa membeli bukunya dengan judul yang sama dengan tema kajian.
"Dan Allah menciptakan kamu dari tanah
kemudian dari air mani, kemudian Dia menjadikan kamu berpasangan (laki-laki dan
perempuan). Dan tidak ada seorang perempuanpun mengandung dan tidak (pula)
melahirkan melainkan dengan sepengetahuan-Nya. Dan sekali-kali tidak
dipanjangkan umur seorang yang berumur panjang dan tidak pula dikurangi
umurnya, melainkan (sudah ditetapkan) dalam Kitab (Lauh Mahfuzh). Sesungguhnya
yang demikian itu bagi Allah adalah mudah." QS. Fatir [35]
: 11
Percayalah bahwa Allah maha mengetahui apa - apa yang terbaik bagi kita. Sebagai ciptaan Allah, sudah sepantasnya kita lebih taat lagi pada Allah. Sudah banyak yang Allah kasih untuk kita, bukannya bersyukur kita malah lebih sering mengeluh apa - apa yang belum kita dapatkan. Sungguh hanya kepada Allah tempat kita memohon. Sesungguhnya kita yang membutuhkan Allah.
Maha benar Allah dengan segala firmanNya.
Langganan:
Posting Komentar
(
Atom
)

Tidak ada komentar :
Posting Komentar