Menjemput Kematian dengan Senyuman
[57]. Tiap-tiap yang berjiwa akan
merasakan mati. Kemudian hanyalah kepada Kami kamu dikembalikan.
[58]. Dan orang-orang yang
beriman dan mengerjakan amal-amal yang saleh, sesungguhnya akan Kami tempatkan
mereka pada tempat-tempat yang tinggi di dalam surga, yang mengalir
sungai-sungai dibawahnya, mereka kekal di dalamnya. Itulah sebaik-baik pembalasan
bagi orang-orang yang beramal,
[59]. (yaitu) yang bersabar dan
bertawakal kepada Tuhannya.
(Qs, Al-Ankabut [29]: 57-59)
Sering kali kita mendengar orang berkata
bahwa yang masih muda tidak perlu mengingat atau membicarakan kematian. Biarlah
mereka yang sudah tua saja membicarakan hal tersebut. Padahal, kematian pada
hakikatnya, tidak mengenal tingkatan usia. Selama seseorang bernyawa, apakah
yang tua dan muda, lelaki dan perempuan, semua pasti akan merasakan mati. Tidak
seorang pun mengetahui kapan kematian menjemputnya, selain Allah SWT.
Di era modern seperti sekarang ini,
banyak kasus kematian yang berlangsung secara tidak terduga. Kematian secara
alamiah yang dialami orang yang sudah tua, tidak lagi mendominasi kasus
kematian. Kecelakaan dan bencana alam saat ini juga banyak menyebabkan kasus
kematian.
Mengaitkan kematian dengan sebab-sebabnya
memang tidak selalu tepat memengaruhi sikap kita terhadap kematian. Biarpun
kecelakaan lalu lintas yang berujung pada kematian begitu banyak, tetapi
mobilitas pergerakan manusia tetap saja memaksanya beraktivitas di jalan raya,
laut, dan udara. Mengaitkan kematian dengan factor usia atau umur juga tidak
relevan. Namun, yang pasti dan tepat ialah bagaimana kita mengaitkan diri kita
dengan kesiapan mengahadapi kematian.
Kita perlu sering bertanya pada diri kita
sendiri, apakah selama rentang usia yang ada, kita sudah punya atau belum,
amalan dan bekal ibadah yang memadai sekiranya ajal menjemput tiba-tiba? Jika
belum, maka kita akan tergolong sebagai orang yang merugi, karena telah
menyia-nyiakan waktu dan nikmat-nikmat lainnya yang diberikan oleh Allah SWT.
Rasulullah SAW berpesan sebagai berikut ;
Ada tiga perkara
yang mengikuti mayit sesudah wafatnya, yaitu keluarganya, hartanya, dan
amalnya. Yang dua akan kembali pulang dan yang satu tinggal bersamanya. Yang pulang
adalah keluarga dan hartanya, sedangkan yang tinggal bersamanya adalah amalnya. (HR. Bukhari dan Muslim).
Anak-anak kita yang lucu dan sangat kita
sayangi, istri/suami yang sangat kita cintai, akna pulang setelah proses
pemakaman selesai. Mereka akan pulang dengan mengendarai kendaraan yang kita
beli dari hasil keringat dan usaha kita selama hidup. Mereka akan pulang menuju
rumah, yang kita beli semasa kita hidup. Jika kita melalaikan ibadah hanya
untuk menyenagkan hati anak-anak, memuaskan hati suami/istri, hanya untuk
memperoleh harta yang banyak, maka sungguh kita telah keliru. Semua itu tidak
akan ikut ke liang kubur, mereka akan kembali sesaat setelah kita dimasukkan ke
liang lahat. Sungguh sangat disayangkan jika kita menghabiskan segala daya
upaya, pemikiran, waktu dan usia hanya semata-mata mengejar duniawi dan
melupakan akhirat. Padahal semuanya akan kita tinggalkan, dan bukan tidak
mungkin akan menjadi milik dan dinikmati orang lain. Alangkah bahagianya jika
kita mampu menjadikan keluarga dan harta kita sebagai lading atau media dalam
beribadah.
Keluarga kita boleh saja pulang dengan
mobil yang dulunya milik kita. Pulang menuju rumah yang dulunya milik kita dan
meninggalkan diri kita sendirian di lubang kubur. Namun, kita masih dapat
berharap kepada mereka untaian doa dan amal jariyah karena kita telah mendidik
mereka sebagai pribadi yang saleh/shalehah. Apabila itu semua kita lakukan,
kita akan mendapat 2 kebahagiaan sekaligus. Di dunia, kita merasakan ketenangan
berkeluarga dangan sebab adanya harta. Sementara di akhirat, seluruh amal
ibadahmu, ilmu, usia, keluarga dan harta, akan menghasilkan pahala ibadah bagi
kita. Amal ibadah itulah yang akan menemani kita di dalam kubu, dan menjadi
bekal kita menghadap Allah SWT.
Harta merupakan hal penting yang akan
ditanyakan di akhirat nanti. Akan ada pertanyaan-pertanyaan, “Hartamu kamu
peroleh darimana? “engkau habiskan untuk apa? “dan umurmu engkau habiskan untuk
apa?” Amatlah merugi, kalu kita tidak bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan ini. Dan
berbahagialah orang-orang yang dapat menjawab pertanyaan –pertanyaan ini. “Harta saya peroleh dari jalan yang
halal. Saya habiskan untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarga saya, untuk
bersedekah, infaq, dan berzakat, serta untuk membantu orang-orang yang
membutuhkan. Sedangkan umur saya dihabiskan untuk beribadah kepada Allah SWT. Untuk
mendidik keluarga hingga bisa menjadi keluarga yang sakinah, mawaddah, penuh rahmah, wa rabbun gaffur . untuk menjadikan anak
saya sebagai anak shaleh/shalehah yang bisa mendoakan orangtuanya. Dan ilmu
yang saya dapat, saya amalkan untuk bekerja keras mencari harta yang halal,
serta untuk mendidik keluarga saya.”
Janganlah sampai kita terlena dengan
harta dan keluarga yang kita miliki. Jangan sia-siakan mereka. Jadikanlah
suami/istri, anak-anak kita sebagai lading ibadah kepada Allah SWT. Doa
anak-anak kita akan sangat kita perlukan. Hal tersebut telah dijelaskan oleh
Rasulullah SAW.
Seorang mayit di dalam kuburnya seperti
orang tenggelam yang sedang meminta pertolongan. Dia menanti-menanti doa ayah,
ibu anak dan kawan-kawan yang terpercaya. Apabila doa itu sampai padanya,
baginya lebih berharga daripada dunia seisinya. Dan sesungguhnya Allah Azza
Wajalla menyampaikan doa penghuni dunia untuk ahli kubur sebesar gunung-gunung.
Adapun hadiah orang-orang yang hidup kepada orang-orang mati ialah memohon
ampunan kepada allah bagi yang mati, dan bersedekah atas nama mereka. (HR.
Ad-Dailami)
Istri/suami dan anak-anak yang telah kita
didik untuk menjadi orang yang shaleh/shalehah akan meghasilkan pahala yang
tidak terputus bagi kita.
Jika manusia
telah mati, maka putuslah amalnya, kecuali amal yang tiga macam, yaitu: sedekah
jariyah, ilmu yang membawa manfaat, anak yang saleh/shalehah yang selalu
mendoakan kedua orangtuanya. (HR Muslim).
Sebuah riwayat memberikan iktibar, bahwa
pahala-pahala dari amal saleh yang kita kerjakan akan mewujud nyata setelah
kita meninggal. Bagi mayit laki-laki, pahala-pahala itu akan menjelma perempuan
nan sangat cantik dan harum tubuhnya. Sang mayit akan terkejut sekaligus
gembira mendapati perempuan itu ada bersamanya. Pun bagi mayit perempuan, maka
pahala-pahala amal saleh yang dikerjakannya akan menjelma laki-laki yang sangat
tampan lagi wangi. Sang mayit akan terkejut dan gembira melihat laki-laki
tersebut ada bersamanya.
Apa yang kita miliki saat ini hanyalah
amanah/titipan, serta sarana menuju alam keabadian, alam akhirat. Jika kita
menyalahgunakan amanah tersebut, ia akan menjadi sarana yang mengantarkan kita
pada murka Allah SWT. Sebaliknya, jika kita mampu menggunakan amanah tersebut
sesuai tuntunan Allah SWT, maka ia akan membawa kita menuju ridha Allah SWT,
yang akan berbuah nikmat surga nan kekal abadi.
Semoga Allah selalu melimpahkan rahmat
dan hidayahNya bagi kita dalam usaha kita mendapatkan kehidupan yang baik di
dunia dan di akhirat.
(disarikan dari buku :
Islam Jawaban Semua Masalah Hidup:Renungan Harian untuk Keluarga Sakinah/Iman
Rachman)
Langganan:
Posting Komentar
(
Atom
)

Tidak ada komentar :
Posting Komentar