Buletin mingguan angkatan Juli 2013 Yisc Al-Azhar

Menjemput Kematian dengan Senyuman

Tidak ada komentar

[57]. Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Kemudian hanyalah kepada Kami kamu dikembalikan.
[58]. Dan orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal yang saleh, sesungguhnya akan Kami tempatkan mereka pada tempat-tempat yang tinggi di dalam surga, yang mengalir sungai-sungai dibawahnya, mereka kekal di dalamnya. Itulah sebaik-baik pembalasan bagi orang-orang yang beramal,
[59]. (yaitu) yang bersabar dan bertawakal kepada Tuhannya.
(Qs, Al-Ankabut [29]: 57-59)

Sering kali kita mendengar orang berkata bahwa yang masih muda tidak perlu mengingat atau membicarakan kematian. Biarlah mereka yang sudah tua saja membicarakan hal tersebut. Padahal, kematian pada hakikatnya, tidak mengenal tingkatan usia. Selama seseorang bernyawa, apakah yang tua dan muda, lelaki dan perempuan, semua pasti akan merasakan mati. Tidak seorang pun mengetahui kapan kematian menjemputnya, selain Allah SWT. 

Di era modern seperti sekarang ini, banyak kasus kematian yang berlangsung secara tidak terduga. Kematian secara alamiah yang dialami orang yang sudah tua, tidak lagi mendominasi kasus kematian. Kecelakaan dan bencana alam saat ini juga banyak menyebabkan kasus kematian. 

Mengaitkan kematian dengan sebab-sebabnya memang tidak selalu tepat memengaruhi sikap kita terhadap kematian. Biarpun kecelakaan lalu lintas yang berujung pada kematian begitu banyak, tetapi mobilitas pergerakan manusia tetap saja memaksanya beraktivitas di jalan raya, laut, dan udara. Mengaitkan kematian dengan factor usia atau umur juga tidak relevan. Namun, yang pasti dan tepat ialah bagaimana kita mengaitkan diri kita dengan kesiapan mengahadapi kematian. 

Kita perlu sering bertanya pada diri kita sendiri, apakah selama rentang usia yang ada, kita sudah punya atau belum, amalan dan bekal ibadah yang memadai sekiranya ajal menjemput tiba-tiba? Jika belum, maka kita akan tergolong sebagai orang yang merugi, karena telah menyia-nyiakan waktu dan nikmat-nikmat lainnya yang diberikan oleh Allah SWT.
Rasulullah SAW berpesan sebagai berikut ; 

Ada tiga perkara yang mengikuti mayit sesudah wafatnya, yaitu keluarganya, hartanya, dan amalnya. Yang dua akan kembali pulang dan yang satu tinggal bersamanya. Yang pulang adalah keluarga dan hartanya, sedangkan yang tinggal bersamanya adalah amalnya.  (HR. Bukhari dan Muslim).

Anak-anak kita yang lucu dan sangat kita sayangi, istri/suami yang sangat kita cintai, akna pulang setelah proses pemakaman selesai. Mereka akan pulang dengan mengendarai kendaraan yang kita beli dari hasil keringat dan usaha kita selama hidup. Mereka akan pulang menuju rumah, yang kita beli semasa kita hidup. Jika kita melalaikan ibadah hanya untuk menyenagkan hati anak-anak, memuaskan hati suami/istri, hanya untuk memperoleh harta yang banyak, maka sungguh kita telah keliru. Semua itu tidak akan ikut ke liang kubur, mereka akan kembali sesaat setelah kita dimasukkan ke liang lahat. Sungguh sangat disayangkan jika kita menghabiskan segala daya upaya, pemikiran, waktu dan usia hanya semata-mata mengejar duniawi dan melupakan akhirat. Padahal semuanya akan kita tinggalkan, dan bukan tidak mungkin akan menjadi milik dan dinikmati orang lain. Alangkah bahagianya jika kita mampu menjadikan keluarga dan harta kita sebagai lading atau media dalam beribadah. 

Keluarga kita boleh saja pulang dengan mobil yang dulunya milik kita. Pulang menuju rumah yang dulunya milik kita dan meninggalkan diri kita sendirian di lubang kubur. Namun, kita masih dapat berharap kepada mereka untaian doa dan amal jariyah karena kita telah mendidik mereka sebagai pribadi yang saleh/shalehah. Apabila itu semua kita lakukan, kita akan mendapat 2 kebahagiaan sekaligus. Di dunia, kita merasakan ketenangan berkeluarga dangan sebab adanya harta. Sementara di akhirat, seluruh amal ibadahmu, ilmu, usia, keluarga dan harta, akan menghasilkan pahala ibadah bagi kita. Amal ibadah itulah yang akan menemani kita di dalam kubu, dan menjadi bekal kita menghadap Allah SWT. 

Harta merupakan hal penting yang akan ditanyakan di akhirat nanti. Akan ada pertanyaan-pertanyaan, “Hartamu kamu peroleh darimana? “engkau habiskan untuk apa? “dan umurmu engkau habiskan untuk apa?” Amatlah merugi, kalu kita tidak bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan ini. Dan berbahagialah orang-orang yang dapat menjawab pertanyaan –pertanyaan ini. “Harta saya peroleh dari jalan yang halal. Saya habiskan untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarga saya, untuk bersedekah, infaq, dan berzakat, serta untuk membantu orang-orang yang membutuhkan. Sedangkan umur saya dihabiskan untuk beribadah kepada Allah SWT. Untuk mendidik keluarga hingga bisa menjadi keluarga yang sakinah, mawaddah, penuh rahmah, wa rabbun gaffur . untuk menjadikan anak saya sebagai anak shaleh/shalehah yang bisa mendoakan orangtuanya. Dan ilmu yang saya dapat, saya amalkan untuk bekerja keras mencari harta yang halal, serta untuk mendidik keluarga saya.”
 
Janganlah sampai kita terlena dengan harta dan keluarga yang kita miliki. Jangan sia-siakan mereka. Jadikanlah suami/istri, anak-anak kita sebagai lading ibadah kepada Allah SWT. Doa anak-anak kita akan sangat kita perlukan. Hal tersebut telah dijelaskan oleh Rasulullah SAW. 

Seorang mayit di dalam kuburnya seperti orang tenggelam yang sedang meminta pertolongan. Dia menanti-menanti doa ayah, ibu anak dan kawan-kawan yang terpercaya. Apabila doa itu sampai padanya, baginya lebih berharga daripada dunia seisinya. Dan sesungguhnya Allah Azza Wajalla menyampaikan doa penghuni dunia untuk ahli kubur sebesar gunung-gunung. Adapun hadiah orang-orang yang hidup kepada orang-orang mati ialah memohon ampunan kepada allah bagi yang mati, dan bersedekah atas nama mereka. (HR. Ad-Dailami) 

Istri/suami dan anak-anak yang telah kita didik untuk menjadi orang yang shaleh/shalehah akan meghasilkan pahala yang tidak terputus bagi kita. 

Jika manusia telah mati, maka putuslah amalnya, kecuali amal yang tiga macam, yaitu: sedekah jariyah, ilmu yang membawa manfaat, anak yang saleh/shalehah yang selalu mendoakan kedua orangtuanya. (HR Muslim).

Sebuah riwayat memberikan iktibar, bahwa pahala-pahala dari amal saleh yang kita kerjakan akan mewujud nyata setelah kita meninggal. Bagi mayit laki-laki, pahala-pahala itu akan menjelma perempuan nan sangat cantik dan harum tubuhnya. Sang mayit akan terkejut sekaligus gembira mendapati perempuan itu ada bersamanya. Pun bagi mayit perempuan, maka pahala-pahala amal saleh yang dikerjakannya akan menjelma laki-laki yang sangat tampan lagi wangi. Sang mayit akan terkejut dan gembira melihat laki-laki tersebut ada bersamanya. 

Apa yang kita miliki saat ini hanyalah amanah/titipan, serta sarana menuju alam keabadian, alam akhirat. Jika kita menyalahgunakan amanah tersebut, ia akan menjadi sarana yang mengantarkan kita pada murka Allah SWT. Sebaliknya, jika kita mampu menggunakan amanah tersebut sesuai tuntunan Allah SWT, maka ia akan membawa kita menuju ridha Allah SWT, yang akan berbuah nikmat surga nan kekal abadi.

Semoga Allah selalu melimpahkan rahmat dan hidayahNya bagi kita dalam usaha kita mendapatkan kehidupan yang baik di dunia dan di akhirat.

(disarikan dari buku : Islam Jawaban Semua Masalah Hidup:Renungan Harian untuk Keluarga Sakinah/Iman Rachman)



Tidak ada komentar :

Posting Komentar