Buletin mingguan angkatan Juli 2013 Yisc Al-Azhar

PASTI DIKABULKAN !

Tidak ada komentar
" Dan, apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah) bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia berdoa kepada-Ku." (Qs. Al-Baqarah [2] : 186). 

Setiap doa yang dipanjatkan dengan ikhlas dan dengan cara yang baik, pastilah Allah kabulkan. Firman Allah swt. " Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia berdoa kepada-Ku". Inilah janji Allah bagi hamba-Nya yang berdoa. Setiap doa yang dipanjatkan, pastilah dikabulkan. 

Hanya saja, kebodohan dan kezaliman manusia sendirilah yang seringkali tidak memahami bagaimana Allah mengabulkan doanya. Allah swt pastilah mengabulkan setiap permohonan doa hamba-Nya dalam bentuk sebaik-baiknya pengabulan. Adakalanya doa itu tidak dikabulkan tidak sebagaimana yang diinginkan oleh orang yang berdoa. Mungkin tidak pada waktu yang dekat, tidak ditempat yang sama, atau tidak dalam bentuk sebagaimana yang dilayangkan oleh orang berdoa itu sendiri. Itu semua adlah kebijakan Allah swt, Kemahatahuan Allah atas apa yang terbaik bagi hamba-Nya. 

Bagaimana Allah Mengabulkan Doa? 

Allah mengabulkan doa kita melalui beberapa cara, yaitu :
1. Allah Langsung Mengabulkan
Adakalanya seorang hamba doanya tidak pernah tertolak dan langsung dikabulkan. Hal itu karena mereka berdoa dengan sungguh-sungguh dan benar. Para kekasih Allah yang telah sampai kepda-Nya, mereka adalah orang-orang yang doanya lekas terkabul. Dan, terkabulnya doa mereka itu karena mereka adalah orang-orang yang taat, punya kedudukan dan kemuliaan, dan dekat dengan-Nya. Kemustajaban doa mereka adalah buah kualitas ketaatan mereka kepada Allah swt. Mereka mempunyai hubungan yang kuat dengan Allah, ketulusan niat, dan yakin terhadap janji-Nya. Sedikit saja mereka berdoa, doanya akan langsung mustajab. Mustajabnya doa seorang Nabi atau Rasul itu dinamakan mukjizat, sedang mustajabnya doa seorang kekasih Allah itu dikatakan karamah. Dan, mustajabnya doa seorang mukmin itu dinamakan ma'unah.  

2.  Tidak Langsung Dikabulkan 
Terkadang, terkabulnya doa orang yang beriman itu ditunda sampai batas waktu yang telah ditentukan. Hal itu karena beberapa hikmah yang terkandung di dalamnya. Diantaranya, Allah hendak menguji dan menggemblengnya sehingga dengan ujian itu ia akan menjadi semakin istiqamah, yakin dan bertakwa kepada-Nya. 
Bisa jadi, doa itu terkabul dalam waktu yang lama hingga kita menyangka kalau doa kita tidak terkabul. Padahal, sebenarnya dikabulkan dan bekas terkabulnya itu terlihat jelas setelah waktu yang lama. Hal ini sebagaimana terkabulnya doa Nabi Nuh as dan juga Nabi Muhammad saw yang terlihat bekasnya setelah Rasulullah berumur 40 th. Doa para nabi pun sebagian ada yang ditunda ijabahnya, hal itu bukan berarti doa mereka tidak makbul, tapi karena terdapatnya suatu hikmah.
Terkadang, suatu doa terkabul saat orang hampir putus asa. Ketika itu Allah datang menghampiri orang yang dicintai-Nya dari arah yang telah ditentukan, dan membuka jalan ketika harapan telah pupus, serta ketika semua jalan telah buntu. Hal itu dimaksudkan agar umatnya tetap mengalihkan harapannya kepada Allah, dan memurnikan niat tawakal kepada-Nya, agar suatu saat nanti ia tidak brpaling dari-Nya dan tidak bosan menunggu jalan keluar dari-Nya. Sungguh, datangnya pertolongan, nikmat, dan rezeki setelah hilangnya harapan itu lebih mendatangkan syukur karena kegembiraan dan kebahagiaan yang didapat setelah beratnya musibah dan bencana itu akan terasa lebih sempurna. 


"Dan, Dialah yang menurunkan hujan sesudah mereka berputus asa dan menyebarkan rahmat-Nya. Dan, Dialah Yang Maha Pelindung lagi Maha Terpuji". (Qs. Asy-syura[42]:128)

3. Terhindar dari Penderitaan dan Musibah. 
Bisa jadi, terkabulnya suatu doa diwujudkan dengan dijauhkannya seorang hamba dari bencana atau musibah yang akan menimpanya. Hal itu terjadi jika Allah tidak menghendaki atas apa yang diminta hamba-Nya. Karena, menrut Allah, itulah yang terbaik untuknya, dan itu sebagai ganti dari apa yang terhalangi dari permintaannya. Rasulullah bersabda,
  
 "Tidaklah seseorang berdoa kepada Allah dengan suatu doa, kecuali Allah akan memberi apa yang dimintanya, atau mencegah suatu keburukan daripadanya sesuai dengan kadar doanya, selama ia tidak berdoa dengan suatu dosa atau memutuskan silaturahim". (HR. Ahmad)
 Sesungguhnya terhindar dari suatu musibah atau bencana adalah nikmat dalam bentuk yang lain. Rasulullah saw. sendiri telah menamakan 'afiat, yakni keselamatan dan kesehatan, sebagai suatu pemberian paling baik. 

4. Menjadi Pahala untuk di Akhirat
Jika Allah menahan dari apa yang kita minta di dunia ini, itu bukan lantaran Allah tidak mengabulkan doa kita, tapi karena dunia itu tidak pantas untuk mengganjar dan memberi pahala bagi orang-orang yang dikasihi-Nya. Karena itu, Allah sengaja menyimpannya untuk diberikan di akhirat kelak. Atau, jika apa yang kita minta itu diberikan di dunia, hal itu akan berakibat buruk bagi kita untuk kehidupan akhirat nanti. 

"Dan kelak Tuhanmu pasti memberikan karunia-Nya kepadamu lalu(hati) kamu menjadi puas".  
 
Tidak sepantasnya kita memandang kebaikan itu hanya dari sisi dunia ini. Karena, babak kehidupan manusia belum selesai di dunia, tetapi masih akan berlanjut pada episode kehidupan selanjutnya, yakni kehidupan akhirat yang abadi. Kehidupan ketika kebaikan dan keburukan, keberuntungan, dan kecelakaan akan diperlihatkan secara jelas. Karena itu, tidaklah adil jika kita berprasangka buruk kepada Allah hanya gara-gara Dia belum mengabulkan doa kita di dunia ini. Kita tidak bisa tergesa-tergesa mengambil kesimpulan yang jelek dari setiap babak kehidupan kita, sebelum kita menyaksikan episode akhirnya, yakni di akhirat nanti. Sebagai orang yang beriman sudah selayaknya kita tidak berpandangan picik hanya untuk saat ini. Orang yang berakal adalah orang yang selalu berpandangan wawasan kedepan. Di akhirat nant, semuanya akan terbukti dan terlihat kenyataannya. 
"Maka Kami singkapkan daripadamu tutup (yang menutupi) matamu, sehingga penglihatanmu pada hari itu amat tajam. " (QS. Qaaf [50]:22) 

5. Diampuni Segala Dosa
Dalam sebuah hadits qudsi Allah swt berfirman, " Sungguh Aku mendapatkan diri-Ku malu pada hamba-Ku yang mengangkat (kedua tangannya) kepada-Ku, kemudian Aku mengembalikan keduanya. Para malaikat berkata, 'Wahai Tuhan kami, dia bukan termasuk ahlinya. Allah berfirman, 'Tetapi Aku ahli takwa dan ahli maghfirah. Aku menyaksikan kepada kalian semua bahwa aku telah mengampuninya. " (HR. Al-Hakim)
Bisa jadi, terkabulnya doa seorang hamba adalah dengan diampuni dosa-dosanya. Terampuni dosa adalah anugerah yang amat besar. zmerupakan rezeki dari allah dalam bentuk yang lain. Rezeki itu bukan hanya yang bisa dinikmati raga, tapi rezeki allah itu bisa dalam hal-hal yang hanya diketahui oleh-Nya. Bukankah jika Allah telah mengampuni suatu dosa, berarti Allah telah menyayangi kita dan Dia akan menghindarkan kita dari balasan siksa di dunia dan akhirat? Seperti sabda Rasulullah yaitu, "Tidaklah seorang hamba meminta sesuatu kepada Allah yang lebih utama daripada ampunan. Dan, tidaklah para hamba diberi sesuatu yang lebih utama daripada ampunan terhadap mereka." Beliau juga bersabda : "Merupakan hal yang paling utama yang diberikan kepada seorang hamba diakhirat adalah maghfirah (ampunan)." (HR Al-Hakim) 

6. Ditolak Bukan Berarti Tidak Diberi

"Sungguh, seorang meminta suatu hajat, kemudian Allah menghalangi dari hajat permintaannya karena itulah yang terbaik baginya." (HR. Thabrani)
  
Ketika Allah menghalangi sesuatu kepada hamba-Nya yang mukmin, berarti Dia hendak memberi suatu kebaikan kepadanya. Bukan karena allah bakhil, tidak mampu, bodoh atau lupa, tetapi karena Dia sangat mengasihi dan menyayanginya. Bukankah orang tua yang mengasihi anaknya terkadang harus menghalanginya dari sesuatu? Itu karena belas kasihnya. 

"Dan Dia memperkenankan (doa) orang-orang yang beriman, serta mengerjakan amal yang shaleh dan menambah (pahala) kepada mereka dari karunia-Nya." (Qs. Asy-Syura[42]:26). 

Pada ayat diatas, Allah telah berjanji bahwa Dia akan mengabulkan doanya orang-orang yang beriman kepada-Nya dan yang beramal shaleh. Lalu pada ayat berikutnya, Dia berfirman: 

"Dan jikalau Allah melapangkan rezeki kepada hamba-hamba-Nya, tentulah mereka akan melampaui batas di muka bumi, tetapi Allah menurunkan apa yang dikehendakiNya dengan ukuran. Sesungguhnya Dia Maha Mengetahui (keadaan) hamba-hamabNya lagi Maha Melihat. (Qs. Asy-Syura[42]:27).

Dari ayat diatas sudah jelas jika Allah menghalangi mereka dari rezeki, hal yang diminta mereka dalam doa, itu supaya mereka tidak berbuat sesuatu yang melampaui batas hingga akan berakibat buruk bagi mereka. Sesungguhnya, sifat manusia itu apabila ia diberi nikmat yang melimpah, ia cenderung akan berbuat sesuatu yang merusak. Pada penghujung ayat tersebut, Allah mengakhirinya dengan pernyataan bahwa Dia Maha Mengetahui (keadaan) hamba-hambaNya, lagi Maha Melihat. Itu mengandung arti bahwa Allah adalah Zat Yang Maha MEngetahui semua tingkah laku manusia, watak mereka, dan akibat akhir dari setiap urusan mereka. Sebab itu Allah telah memperkirakan rezeki mereka yang sesuai dengan kemashlatan mereka. 
Terkadang, kebaikan itu datang dari keburukan, dan sesuatu yang berguna itu muncul dari hal yang membahayakan. Yakin dan percayalah bahwa apa yang tidak kita dapatkan itu memang tidak baik untuk kita, dan yang baik untuk kita tidak mungkin luput dari kita.
 

Tidak ada komentar :

Posting Komentar