Meneladani seorang entrepeneur sukses
Rejeki mutlak datangnya dari Allah, tapi apakah dengan berdiam diri Allah akan memberikan kita rejeki? Tentu saja jawaban dari pertanyaan seperti ini sangat mudah untuk kita jawab. Lantas berapa banyak dalam sehari ini saja, kita mengeluhkan masalah rejeki? Sebenarnya siapa yang salah? tidak mungkin Allah salah dalam memberikan kita rejeki. Ada banyak cara dalam menjemput rejeki selain bekerja kantoran, atau menjadi PNS atau seorang karyawan swasta yang sukses. Salah satu nya dengan menjadi seorang entrepeneur (wirausahawan) atau lebih mudah kita sebut dengan pedagang. Rasulullah SAW adalah seorang pedagang sukses d masa nya, beliau merupakan contoh teladan dalam berdangang. Saat usianya masih 12 tahun saja Rasulullah sudah mulai ikut pamannya untuk berdagang.
Berikut ini ada 4 perkara yang patut kita contoh dalam berdagang :
1. Jujur
Saat berdagang Nabi Muhammad SAW
muda dikenal dengan julukan Al Amin (yang terpercaya). Sikap ini tercermin saat
dia berhubungan dengan customer maupun pemasoknya.
Rasulullah SAW bersabda :
"Pedagang yang jujur dan terpercaya akan dibangkitkan bersama para Nabi, orang-orang shiddiq dan para syuhada." (HR Tirmidzi). Kejujuran merupakan modal utama dalam berdagang, bukan hanya dalam berdagang dalam kehidupan sehari - hari pun sudah sepantasnya kita berkata jujur sehingga orang dapat menaruh kepercayaannya pada kita.
"Pedagang yang jujur dan terpercaya akan dibangkitkan bersama para Nabi, orang-orang shiddiq dan para syuhada." (HR Tirmidzi). Kejujuran merupakan modal utama dalam berdagang, bukan hanya dalam berdagang dalam kehidupan sehari - hari pun sudah sepantasnya kita berkata jujur sehingga orang dapat menaruh kepercayaannya pada kita.
2. Mencintai Customer
Dalam berdagang Rasulullah sangat
mencintai customer seperti dia mencintai dirinya sendiri. Itu sebabnya beliau
melayani pelanggan dengan sepenuh hati. Jadi, jelaslah bahwa pembeli adalah raja. Bahkan, beliau tidak rela pelanggan tertipu
saat membeli. Tidak seperti pedagang kebanyakan saat ini yang melakukan berbagai cara agar memberi keuntungan yang besar tanpa memikirkan akibat dari kecurangannya itu. Sikap ini mengingatkan pada hadits
yang beliau sampaikan, “Belum beriman seseorang sehingga dia mencintai
saudaramu seperti mencintai dirimu sendiri.”
3. Penuhi Janji
Nabi sejak dulu selalu berusaha
memenuhi janji-janjinya. Firman Allah, “Wahai
orang-orang yang beriman penuhi janjimu.” (QS Al Maidah 3).
Dalam dunia pemasaran, ini berarti
Rasulullah selalu memberikan value produknya seperti yang diiklankan atau
dijanjikan. Dan untuk itu butuh upaya yang tidak kecil. Pernah suatu ketika
Rasulullah marah saat ada pedagang mengurangi timbangan. Inilah kiat Nabi menjamin
customer satisfaction (kepuasan pelanggan).
Sudahkah kita menjadi penjual yang memberi kepuasan? sudahkah kita berani memenuhi janji dari produk yang kita jual? Ingatlah bahwa Allah Maha Mengetahui segala sesuatu baik yang ada di dalam hati kita.
4. Segmentasi ala Nabi
Ketika Rasulullah melewati seorang
penjual makanan. Beliau tertarik ingin membelinya. Beliau lalu memasukkan
tangannya ke tempat makanan tersebut untuk memilihnya. Beliau terkejut ketika
tangannya merasakan makanan yang berada di bagian bawah ternyata basah. Beliau
bertanya mengapa demikian. Pedagang itu menjawab bahwa dagangannya tertimpa air
hujan. Beliau berkata sambil emnunjukkan ketidaksukaannya, “Mengapa engkau
tidak meletakkkan makanan yang basah itu di atas agar pembeli bisa melihatnya.”
Kemudian Rasulullah SAW bersabda
من غشنا فليس
منا
“Barang siapa yang mencurangi kami,
bukan dari pengikut kami” (HR. Muslim)
Pelajaran dari kisah itu adalah
bahwa Nabi selalu mengajarkan agar kita memberikan good value untuk barang yang
dijual. Sekaligus Rasulullah mengajarkan segmentasi: barang bagus dijual dengan
harga bagus dan barang dengan kualitas lebih rendah dijual dengan harga yang
lebih rendah.
Itulah 4 perkara yg wajib kita teladani sebagaimana yang sudah Rasulullah SAW ajarkan. Berdagang memang mencari keuntungan, tapi di balik sebuah keuntungan ada yang lebih berharga, yaitu keberkahan dari hasil penjualan kita. Karena sebaik - baiknya rejeki adalah yang rejeki yang penuh keberkahan dari Allah SWT. Bukan besar kecilnya keuntungan yang kita dapatkan. Karena berdagang merupakan proses berkesinambungan yang akan terus berjalan sesuai perputaran ekonomi.
Dari Mu’adz bin Jabal radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:
إن أطيب الكسب كسب التجار الذي إذا حدثوا لم يكذبوا و إذا ائتمنوا لم
يخونوا و إذا وعدوا لم يخلفوا و إذا اشتروا لم يذموا و إذا باعوا لم يطروا و
إذا كان عليهم لم يمطلوا و إذا كان لهم لم يعسروا).
“Sesungguhnya sebaik-baik penghasilan ialah penghasilan para pedagang
yang mana apabila berbicara tidak bohong, apabila diberi amanah tidak
khianat, apabila berjanji tidak mengingkarinya, apabila membeli tidak
mencela, apabila menjual tidak berlebihan (dalam menaikkan harga),
apabila berhutang tidak menunda-nunda pelunasan dan apabila menagih
hutang tidak memperberat orang yang sedang kesulitan.” (Diriwayatkan oleh Al-Baihaqi di dalam Syu’abul Iman, Bab Hifzhu Al-Lisan IV/221).
Bekerja keras itu perlu, berdoa itu wajib, tunaikan kewajiban dan lengkapi dengan sunahhnya serta serahkan hasilnya pada yang Maha Memberi Rejeki. Maha benar Allah dengan segala firmanNya.
Dikutip dari berbagai sumber
Langganan:
Posting Komentar
(
Atom
)
Tidak ada komentar :
Posting Komentar