Seorang pemimpin
Saat ini, di sepanjang jalan banyak
kita temui poster - poster juga baliho - baliho partai yang sedang mencalonkan
pemimpin - pemimpinnya. Sampai - sampai kita sendiri yang melihat menjadi bosan
dan seakan tidak perduli. Bukan berarti kita termasuk orang - orang yang acuh
terhadap negara ini, tapi mungkin karena kita sudah terbiasa dengan janji -
janji seorang pemimpin. Bukan hanya itu, sudah menjadi rahasia umum dana
milyaran yang mereka gunakan untuk menggalang kampanye. Padahal, di saat ini
masih banyak warga negara kita yang butuh perhatian pemerintah.
| Sang pemimpin |
Berbeda jauh dengan masa
pemerintahan di jaman Rasulullah SAW dulu. Begitu juga kita tahu saat kejayaan
Islam di masa Khulafaur Rasyidin (bahasa Arab:
الخلفاء الراشدون) atau Khalifah Ar-Rasyidin adalah empat orang khalifah
(pemimpin) pertama agama Islam.
Khalifah (Arab:خليفة
Khalīfah) adalah gelar yang diberikan untuk pemimpin umat Islam setelah wafatnya Nabi Muhammad
SAW (570–632). Khalifah juga sering disebut sebagai Amīr
al-Mu'minīn (أمير المؤمنين) atau "pemimpin orang yang beriman",
atau "pemimpin orang-orang mukmin", yang kadang-kadang disingkat menjadi
"amir".
Menjadi seorang pemimpin
sesungguhnya adalah tanggung jawab yang sangat besar, karena bukan hanya
bertanggung jawab kepada rakyat yang di pimpinnya, tapi juga kepada Allah
SWT.
Sebuah hadits yang di catat oleh
Imam Ahmad (21504) Ath Thabrani dalam Mu’jam Al Kabir (16770),
شَرِيكٌ , عَنْ أَبِي حَصِينٍ , عَنِ الْوَالِبِيِّ
صَدِيقٌ لِمُعَاذِ بْنِ جَبَلٍ , عَنْ مُعَاذٍ , قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللَّهِ
صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : ” مَنْ وَلِيَ مِنْ أَمْرِ النَّاسِ شَيْئًا
, فَاحْتَجَبَ عَنْ أُولِي الضَّعَفَةِ وَالْحَاجَةِ , احْتَجَبَ اللَّهُ عَنْهُ
يَوْمَ الْقِيَامَةِ “
“dari Syuraik, dari Abu Hushain, dari Al Wabili
sahabat dekat Mu’adz bin Jabal, dari Mu’adz, ia berkata, Rasulullah Shallallahu’alaihi
Wasallam bersabda: ‘Barangsiapa yang ditakdirkan oleh Allah Azza Wa
Jalla untuk menjadi pemimpin
yang mengemban urusan orang banyak, lalu ia menghindar dari orang yang lemah
dan yang membutuhkan, Allah pasti akan menutup diri darinya di hari kiamat”
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasalam beliau
bersabda:
إِنَّ شَرَّ الرِّعَاءِ الْحُطَمَةُ فَإِيَّاكَ أَنْ
تَكُونَ مِنْهُمْ
“Sesungguhnya sejelek-jelek penggembala adalah yang
kasar terhadap hewan gembalaannya” (HR. Muslim no. 1830).
Diibaratkan seorang pengembala, Rasulullah SAW sangat
memperhatikan setiap detailnya, artinya terhadap hewan saja kita harus
memberikan hak – hak nya apalagi
terhadap manusia? Sungguh Allah maha sempurna dan Rasulullah SAW satu – satunya
panutan kita.
Kita bisa mengambil dua faidah dari hadits ini:
- Seorang yang diberikan oleh Allah amanah sebagai pemimpin yang mengurusi urusan rakyat tidak boleh kasar kepada mereka, bahkan harus bersikap lemah lembut
- Orang yang diberi Allah amanah sebagai pemimpin wajib bersikap lemah lembut dalam hal menunaikan hak-hak rakyat, namun lemah lembut yang disertai integritas, kekuatan dan determinasi. Bukan lemah lembut yang loyo dan lemah. Akan tetap lemah lembut yang penuh integritas, kekuatan dan determinasi
Ali bin Al Hakim, Abul Hasan
menuturkan kepadaku, ‘Amr bin Murrah berkata kepada Mu’awiyah, aku mendengar
Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda: ‘Tidak seorang pun pemimpin yang menutup
pintunya untuk orang yang membutuhkan, orang yang kekurangan dan orang miskin,
kecuali Allah akan menutup pintu langit dari kekurangan, kebutuhan dan
kemiskinannya. Lalu Allah pun menjadikan Mu’awiyah orang yang memperhatikan
kebutuhan rakyat‘”
Rasulullah sudah memberikan kita
tuntunannya dalam memilih dan menjadi seorang pemimpin. Maka wahai para calon
pemimpin dan rakyat yang akan dipimpin, selektif lah kalian dalam memimpin. Sesungguhnya
kalian para pemimpin akan mengemban tanggung jawab yang begitu besar, bersikap
lah seperti para amirul mukminin, belajarlah bagaimana mereka menjadi seorang
pemimpin dan jadilah makmum yang baik, saat pemimpin yang kau pilih mengemban
tugasnya.
Jadilah pemimpin yang dapat memenuhi
hak – hak rakyat nya, dan jadilah rakyat yang memenuhi kewajiban – kewajiban terhadap
keputusan pemimpinmu.
Maha benar
Allah dengan segala firmanNya.
Di kutip dari 'Ulil Amri Harus Peduli Terhadap Hajat Rakyat — Muslim.Or.Id'
Langganan:
Posting Komentar
(
Atom
)
Tidak ada komentar :
Posting Komentar